By Farizal Akbar

Hosting Gratis
  • Belajar Online

    Belajar berbagai materi, pengetahuan, dan serial ensiklopedi terbaru. Berbagi ilmu walaupun hanya sedikit, tetapi bisa membantu

  • Klasifikasi Makhluk Hidup

    Klasifikasi makhluk hidup merupakan suatu cara memilah dan mengelompokkan makhluk hidup menjadi golongan atau unit tertentu yang disebut takson. Ilmu yang mempelajari klasifikasi makhluk hidup disebut taksonomi[...]

  • Tanda-tanda Cinta Sejati

    Orang yang mencintai kamu tidak pernah bisa memberikan alasan kenapa ia mencintai kamu, yang ia tahu dimatanya hanya ada kamu satu-satunya[...]

  • #

    #

Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kebudayaan Kediri

Posted by Farizal Akbar On 15.57 No comments

KESENIAN JARANAN KEDIRI

Kesenian Jaranan, budaya Kediri

         Ragam kesenian di Kabupaten Kediri tentunya tidak lepas dari sejarah kerajaan Kediri.Beberapa kesenian khas daerah yang dapat dinikmati wisatawan antara lain Seni Jaranan, kethek ogleng dll
Kesenian Jaranan menyuguhkan berbagai atraksi menarik yang kadang mampu membangkitkan rasa takjub.Atraksi gerak pemain dengan diiringi tabuhan gamelan serta sesekali diselingi unsur magis menjadikan kesenian ini layak ditonton.
         Di Kabupaten Kediri terdapat beberapa kesenian Jaranan yang dapat dinikmati diantaranya Jaranan Senterewe, Jaranan Pegon, Jaranan Dor, dan Jaranan Jowo. Jaranan Jowo merupakan salah satu kesenian Jaranan yang mengandung unsur magis dalam tariannya. Dimana pada puncaknya penari akan mengalami TRANCE (kesurupan) dan melakukan aksi berbahaya yang terkadang di luar akal manusia.
Sedangkan Jaranan Dor, Jaranan Pegon, dan Jaranan Senterewe lebih mengedepan kan kreatifitas gerak dengan iringan musik yang dinamis. Jaranan Senterewe merupakan jaranan yang digemari, karena dalam penampilannya selalu disertai hiburan lagu-lagu yang bernada diatonis. Seluruh kesenian jaranandi Kabupaten Kediri berada di bawah naungan Paguyuban Seni Jaranan (PASJAR) Kabupaten Kediri. Pemakeman Jaranan Kediri mengalami kendala karena hampir di setipa daerah terdapat kesenian ini, terutama daerah sekitar kediri, namun berbeda gerakanya. Perlu kajian sejarah untuk menetapkan pakem.
Jaranan, sebenarnya menggambarkan cerita masa lalu, ketika Raja Bantar Angin, seorang raja dari Ponorogo bermaksud melamar Dewi Songgolangit, putri cantik dari kerajaan Kediri, atau yang biasa disebut juga dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candra Kirana. Konon menurut cerita, karena wajahnya jelek, Raja Bantar Angin akhirnya menyuruh Patihnya, yang bernama Pujangga Anom, seorang patih yang dikenal sangat tampan. Agar Dewi Sekartaji tidak tertarik dengan Patih Pujangga Anom, Raja Bantar Angin memintanya memakai sebuah topeng buruk rupa. Lalu Patih Pujangga Anom, datang ke kerajaan Kediri, menyampaikan maksud rajanya. Putri Sekartaji, yang mengetahui Patih Pujangga Anom mengenakan topeng, merasa tersinggung, lalu menyumpahi agar topeng tersebut, tidak bisa dilepas seumur hidup. Raja Bantarangin, akhirnya datang sendiri ke Kerajaan Kediri. Sebagai gantinya, Dewi Songgolangit meminta 3 persyaratan. Jika Raja Bantarangin bisa memenuhi, dirinya bersedia diperistri. Tiga syarat tersebut, binatang berkepala dua, 100 pasukan berkuda warna putih, dan alat musik yang bisa berbunyi jika dipukul bersamaan. Sayangnya, Raja Bantarangin, hanya bisa memenuhi 2 dari 3 persyaratan tersebut, 100 kuda warna putih yang digambarkan dengan kuda lumping, alat musik yang bisa dipukul bersamaan yakni gamelan. Sehingga, terjadi pertempuran diantara keduanya. Kerajaan Kediri, datang dengan membawa pasukan berkuda, yang kini digambarkan sebagai jaranan, sementara Kerajaan Ponorogo membawa pasukan, yang kini digambarkan sebagai kesenian Reog Ponorogo.Diperjalanan, terjadi pertempuran. Raja Ponorogo yang marah, membabat macan putih yang ditunggani patih kerajaan Kediri, dengan cambuk samandiman, hingga akhirnya melayang ke kepala salah satu kesatria dari Ponorogo. Bersamaan dengan kejadian tersebut, seekor burung merak, kemudian juga menempel dikepala kesatria tersebut, sehingga ada kepala manusia yang ditempeli kepala macan putih dan merak, ini yang sekarang disimbolkan reog Ponorogo. Bahkan, dalam tarian reog, semua penari juga membawa cambuk. Sementara dalam kesenian jaranan, menggambarkan pasukan berkuda Dewi Sekartaji yang hendak melawan Raja Ponorogo. Barongan, Celeng dan atribut didalamnya, sebagai simbol, selama dalam perjalanan menuju Ponorogo yang melewati hutan belantara, pasukan juga dihadang berbagai hal, seperti naga, dan hewan hewan liar lainnya.


KETHEK OGLENG
 
Kethekogleng, budaya Kediri.

         Selain jaranan, Kediri juga punya kesenian khas yang lain. Bahkan, tari yang dicuplik dari kisah asmara Panji Asmarabangun dan Dewi Kilisuci tersebut juga sudah mendunia. Tapi sekarang tari ini terancam punah. Bagi komunitas seniman Kediri, nama Guntur sudah tidak asing lagi. Dedikasinya terhadap dunia seni bahkan sudah membawanya hingga ke berbagai negara di dunia. Memperkenalkan tari nasional ke seluruh dunia. Salah satunya adalah mempertontonkan tari Kethek Ogleng. Menurut Guntur, tari Kethek Ogleng sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu. Tari ini mengalami masa puncak pada era 70-an. Seiring berjalannya waktu, tari Kthek Ogleng perlahan-lahan mulai jarang ditampilkan. Pada era 90-an kegemaran masyarakat dan seniman mulai bergeser. Mereka lebih suka memainkan jaranan yang gerakan dan musiknya lebih sederhana. Tak heran bila saat ini warga Kediri lebih mengenal jaranan sebagai seni khas Kediri dibandingkan Kethek Ogleng. Apa yang membuat Kethek Ogleng menjadi kesenian khas Kediri? Guntur mengatakan sebenarnya tari tersebut berasal dari legenda Kota Kediri. Yaitu kisah percintaan Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji dalam Cerita Panji.
         Kera atau kethek yang ditampilkan pada cerita tersebut adalah jelmaan dari Panji Asmorobangun. Dia berubah wujud menjadi seekor kera putih yang sedang mencari calon pendamping hidup. Saat berkelana di hutan kera putih berjumpa dengan Endang Roro Setompe yang merupakan nama lain dari Dewi Sekartaji. Melihat sosok Dewi Sekartaji yang cantik jelita, Panji pun tergoda. Namun sayangnya Sekartaji tidak mau memiliki suami seeekor kera. “Akhirnya Sekartaji meninggalkan kera sendirian di tengah hutan,” cerita Guntur.
         Cerita itulah yang kemudian ditampilkan dalam bentuk satu tarian dengan nama Kethek Ogleng. Sebenarnya untuk bisa menampilkan kesenian itu hanya dibutuhkan dua orang penari dengan iringan musik gamelan. Penari pertama berperan sebagai kera putih dan penari kedua berperan sebagai Dewi Kilisuci.


Pohon Apel yang Bermanfaat Untuk Kita

Posted by Farizal Akbar On 20.30 No comments

Oleh Juliana Bieber Hodinata

Pohon Apel
Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu."Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya."

Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang... tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. " Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi," kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu," kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. "Ayo bermain-main lagi denganku," kata pohon apel. "Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?" . "Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah”. Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf anakku," kata pohon apel itu. "Aku sudah tak memiliki buah apel lagi untukmu". "Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk mengigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. "Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat," kata pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab anak lelaki itu. "Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. "Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki. "Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu”. "Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita.
Dan, yang terpenting cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada kita.

Resensi Buku : Bahasa dan Sastra Indonesia BSE

Posted by Farizal Akbar On 21.50 No comments


Identitas

Judul buku                         :     Bahasa dan Sastra Indonesia kelas X SMA/MA
Penulis                                 :     Sri Utami
                                                      Sugiarti
                                                      Suroto
                                                      Alexander Sosa
Penerbit                              :     PT. Galang Puspa Mega
Tahun Terbit                      :     Juli 2008
Tebal Buku                         :      X + 174 halaman


         Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi. Bagi penulis (Sri Utami, Sugiarti, Suroto dan Alexander Sosa), hal ini kesempatan untuk menulis dan menyusun buku baru yang memuat isi tentang rangkuman sekaligus penjelasan bagi siswa – siswi kelas X.
         Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelas X SMA/MA ini dibuat berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Buku ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
         Seluruh standar kompetensi dalam kurikulum tertuang dalam buku ini. Standar kompetensi tersebut akan menjadi kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia.
         Pembelajaran Bahasa Indonesia ini  bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosial. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
         Buku Bahasa dan Sastra Indonesia untuk kelas X SMA/MA dapat menjadi sarana untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut. Materi materi dalam buku ini terbagi dalam 12 tema. Kedua belas tema tersebut dibagi ke dalam dua semester. Pembagian 12 bab ke dalam dua semester ini dimaksudkan sebagai acuan bagi peserta didik.
         Banyak materi yang akan dibahas dalam buku ini yaitu : tentang puisi, imbuhan, membaca cepat fakta opini, kutipan dan masih banyak lagi. Selain itu pembahasan tentang puisi akan dibahas secara jelas dihampir setiap bab.Semua materi akan dibahas dalam buku kelas X ini.
         Selain itu, buku ini memiliki keungggulan yaitu : di awal bab terdapat tujuan mempelajari materi yang akan dibahas. Harga buku terjangkau. Disetiap materi terdapat evaluasi soal. Dan huruf dan ukuran bukunya cukup besar, sehingga mempermudah proses membaca. Disamping keunggulan, buku ini juga memiliki kekurangan yaitu : Gambarnya tidak berwarna, sehingga terkesan kurang menarik. Tidak diketahui biografi penulis/pengarang. Dan banyak materi yang diulang disetiap bab-nya.
         Buku Bahasa dan Sastra Indonesia ini juga dapat digunakan sebagai pedoman pembelajaran bahasa Indonesia kelas X. Dan dapat berguna bagi peserta didik yang kurang mampu, karena harganya sangat terjangkau.

Legenda : Kampung Kramat Tikus

Posted by Farizal Akbar On 21.44 No comments

Alkissah pada dahulu kala ada sebuah kampung, kampung itu terletak disekitar jalan Kh. Moh Kholil gang 7, Demangan, Bangkalan. Kehidupan di kampung itu sangat tentram dan damai. Namun, ketentraman kampung itu berubah menjadi rusuh karena dikacaukan oleh maling yang mencuri harta-harta milik penduduk kampung itu. Berbagai macam perhiasan, uang dan barang berharga lainnya ludes diraup maling itu.

Hari demi hari terlewati, suasana kampung itu semakin rusuh. Bahkan setiap harinya rata-rata rumah penduduk di kampung itu sudah kemalingan. Sehingga pada suatu malam diadakan rapat penduduk kampung itu untuk mengadakan pos ronda selama 24 jam untuk mengawasi kampungnya dari jangkauan maling.

Pada saat ronda malam, seorang penduduk melihat maling yang segera ingin mencuri di rumah sebelah. Orang itu mengejar maling itu dan berteriak maling ! maling ! maling ! sehingga semua orang keluar dari rumahnya dan kemudian mengejar maling itu, tapi sayangnya, maling itu berhasil lolos. Tetapi maling itu menyisakan barang bukti di halaman kampung, yaitu topi kopyah. Setelah diselidiki, ternyata kopyah itu adalah kopyah milik pesantren laki laki. Pesantren tersebut merupakan murid dari Kh. Syaichona Cholil. Dan juga ada yang menyelidiki, bahwa hasil curian pesantren tersebut tidak digunakan untuk kepentingan dirinya, melainkan untuk membantu fakir miskin dan anak-anak yatim

Seluruh penduduk kampung mengadakan rapat lagi, dan pada saat itu mereka mengusulkan untuk menjebak si pesantren maling itu. Mereka mempersiapkan sebuah korban, dan juga mempersiapkan orang orang disekitar yang akan menangkap si maling. Dan merekapun sudah bersiap untuk menjebaknya pada malam ini.

Matahari terbenam, malam pun tiba. Semua penduduk bersiap-siap untuk menjebak si maling. Dan tiba saatnya dikala orang orang berhasil menjebak si maling, maling itu dikeroyok oleh orang orang di kampung itu, tetapi setelah berhenti mengeroyok tiba-tiba si pesantren maling itu hilang, dan digantikan oleh seekor tikus. Sehingga kampung itu dinamakan Kramat Tikus.